Apa kau mengetahuinya?
Apa kau tidak mempertanyakannya?
Apa kau telah mengerti?
Apa kau sadar apa yang akan terjadi nanti?
Kapan kau akan berhenti?
Di mana letak kebahagiaanmu?
Siapakah gambaran orang yang terbayang di saraf otakmu?
Berapa detik sabarmu kau jaga?
Bagaimana kau mengacuhkannya?
Bagaimana meniadakannya dalam pikiranmu?
Bagaimana menghancurkannya dalam hatimu?
Bagaimana kau membunuhnya dalam memorimu?
Mengapa kau begitu bahagia meninggalkannya?
Mengapa kau menghunusnya dengan harapannya sendiri?
Mengapa kau masih mampu hidup karenanya?
Mengapa kau melakukan hal yang ingin segera kau akhiri?
Aku ingin tahu mengapa
Apakah memang ada seseorang yang hidup untuk mati dalam pikiran dan hati orang lain?
Apakah memang ada seseorang yang menyembuhkan luka seseorang hanya agar ia dapat melukainya dengan tangannya sendiri?
Apakah memang ada seseorang yang mengatasnamakan cinta untuk meleburkan hati orang lain?
Saturday, May 7, 2016
Tuesday, January 12, 2016
Relinquishing
Bodohku kadang menangkap
Aku menyalahkan yang tak terlihat
Dalam hati ingin meledak
Kutahan batasku hancur jua
Kilau silau menggiring ilusi
Mataku terkesiap takjub memuji
Kagum mengagumi kebanggan
Memuja dalam bisikan hati
Kala aku bak tahu jagad raya
Aku menampar pingsannya kalbuku
Ingkar aku terhadap rasa
Aku memusuhi kalbuku sendiri
Pikirku dalam sederhana
Mengalah pada hakikinya kisah
Aku tidak takut mati terbakar
Takutku kau hancur kubakar
Salah-salahku benar sejati
Dosa-dosaku kuhimpun nurani
Bahagiaku menatap kau pergi
Aku melepas cahaya pagi
Senyumku getir menggigit pahit
Kurasakan tangisku mengering
Rela ini kubangun kokoh
Asal bahagiamu adalah hal pengganti
Ruang Cermin
I saw myself smile
I saw it was fake
I saw myself sad
I saw it was an anger
I saw myself laugh
I saw it was just moving jaws
I saw myself live
I saw its sin
I am looking into it
Straight through
I am watching my move
Dancing in craziness
My eyes shade their illusion
Provoke irritating mention
I tear the mirror in vengeful
Then I realize my blood isn't full
In the room where I can stare
In the room where I was crazy
Now, I am living in depravity
Waiting judgment inside me
Cinta dalam Pusara
Who knows about love?
Who knows about someone's love?
Who knows about his/her love?
Destiny do
Mine is empty
A shell without its life
An empty hall
A feelingless heart
I was told about love
A sweet and long-lasting one
Happiness that be carved then vanished
I realized that love is fairytale sugar
But, I wonder, I wander
Love is still searchable
The way isn't always straight
Slope, sledge, sharp, scarful
I found malice covered by sweet words
I found faith, but I was lustless
I found perfection, but it had two sides
Yes, perfect bivurcation
I loved it with my soul and faith
I cared it with all of my time and space
I hugged closely and missed it extremely
Then I kicked
It's between darkness and light
A righteous being shall bear bright side, I knew
Foolish me, I was still hoping
I offered suicide to my love
I smiled fakely to light that seems honest
They taught their kind how devilish my eyes
They created fear full by nothing but lies
Then I hide, hiding from normality
Love can easily be spoken
It kills me
Love can give you happiness
It tortures me
Love can guide you to your life
It hurts me
Love is love
It makes me alone
A Butterfly in a Glass
Sejuk tetesan embun
Menari di atas jurang
Redup lindungan dahan
Menunduk di tepi kehidupan
Tangisan yang terbakar
Melodi yang retak
Detak jantung meledak-ledak
Senyummu nyaman dalam kepalsuan
Semua tahu takdir apa
Semua tahu nasib apa
Semua tahu kehidupan
Hanya kadarnya sedetik masa
Sejarah kadang membawa kekuatan
Belajar dalam pengalaman
Mengetahui jalan dalam kepastian
Buta dalam pengetahuan
Sekejap cahaya datang
Membawa jawab terang
Menjawab satu tanya
Kekal dalam pengertian
Engkau hidup bagai kupu-kupu
Dalam gelas kecil jernih tak berwarna
Kau tahu dunia menarik dan mendorong jiwamu
Namun kau mati dalam kakunya raga
Menari di atas jurang
Redup lindungan dahan
Menunduk di tepi kehidupan
Tangisan yang terbakar
Melodi yang retak
Detak jantung meledak-ledak
Senyummu nyaman dalam kepalsuan
Semua tahu takdir apa
Semua tahu nasib apa
Semua tahu kehidupan
Hanya kadarnya sedetik masa
Sejarah kadang membawa kekuatan
Belajar dalam pengalaman
Mengetahui jalan dalam kepastian
Buta dalam pengetahuan
Sekejap cahaya datang
Membawa jawab terang
Menjawab satu tanya
Kekal dalam pengertian
Engkau hidup bagai kupu-kupu
Dalam gelas kecil jernih tak berwarna
Kau tahu dunia menarik dan mendorong jiwamu
Namun kau mati dalam kakunya raga
Nirvana
Aku bermimpi, mimpi waktu
Ruangku sempit, berada titik kecil
Meneriaki makhluk lain yang aku jauh
Sesadarnya aku tiada, nyata, memori, lalu kehampaan
Kenang pikir aku bertempat, berdeteksi, terlacak
Sungguh wujud kias cangkang dari ingatan
Satu jari berganti posisi
Waktu dunia menggelepar, guncang yang eksis
Impuls bersentuh duniawi, respon khayalan sejati
Trilyunan kata-kata terucap tak berjanji
Manfaat terlindung senyap ketidaktahuan
Bola mata menatap eon, menatap era, menatap cermin
Hati dihunus ratusan tombak, aku lembut menerima
Tangisku hancur sedetik berharga
Aku sel yang mati, aku sel yang sendiri
Bencimu menampar nyamannya takdirku
Tentu... Ya, aku berbeda...
Bersimpah darah genangan lumpur
Mengais dasarnya tak timbul
Merengek ratapan siklus
Tuhan kusalahkan
Aku getir menatap dosa
Nikmat ruah selainku, sekecil amarah menggebu hayat
Benarkah?
Lalu apa? Bahagianya?
Hasratku lahar gunung yang berdetak
Putus kupotong hubungan nurani
Aku sedih, senang, marah, akulah yang ditindih
Ruangku sempit, berada titik kecil
Meneriaki makhluk lain yang aku jauh
Sesadarnya aku tiada, nyata, memori, lalu kehampaan
Kenang pikir aku bertempat, berdeteksi, terlacak
Sungguh wujud kias cangkang dari ingatan
Satu jari berganti posisi
Waktu dunia menggelepar, guncang yang eksis
Impuls bersentuh duniawi, respon khayalan sejati
Trilyunan kata-kata terucap tak berjanji
Manfaat terlindung senyap ketidaktahuan
Bola mata menatap eon, menatap era, menatap cermin
Hati dihunus ratusan tombak, aku lembut menerima
Tangisku hancur sedetik berharga
Aku sel yang mati, aku sel yang sendiri
Bencimu menampar nyamannya takdirku
Tentu... Ya, aku berbeda...
Bersimpah darah genangan lumpur
Mengais dasarnya tak timbul
Merengek ratapan siklus
Tuhan kusalahkan
Aku getir menatap dosa
Nikmat ruah selainku, sekecil amarah menggebu hayat
Benarkah?
Lalu apa? Bahagianya?
Hasratku lahar gunung yang berdetak
Putus kupotong hubungan nurani
Aku sedih, senang, marah, akulah yang ditindih
Accumulated Despair
Jika Tuhan itu langit
Kulemparkan ribuan bom atom, tidak akan menyakiti-Nya
Jika Tuhan itu bumi
Kuhunuskan ribuan pedang, tidak akan melukai-Nya
Noktah hitam di belenggu hatiku bertanya
Mengapa kau hidup hanya untuk mati?
Mengapa kau berenang dalam air hanya untuk terbakar?
Mengapa kau diciptakan hanya untuk dihancurkan?
Amarah insan memang membinasa
Nafas Sang Nafsu memang kuasa
Ketidakpuasan manusia memang tiada pupus
Dosa orang-orang memang bermandikan darah
Kisah pendahulu yang mati, menakuti
Kisah yang dikenang, mengalahkan
Kisah masa depan, langkah yang terpaku
Kisah akhir jaman, jeritan kesakitan
Siapa yang mengajari?
Siapa yang menjelaskan?
Siapa yang melakukan?
Naluri berjawab bulat
Hati gelap tersesat
Makhluk garang tak bersahabat
Aku teriak suara tercekat
Bayang kegelapan datang terlambat
Kulemparkan ribuan bom atom, tidak akan menyakiti-Nya
Jika Tuhan itu bumi
Kuhunuskan ribuan pedang, tidak akan melukai-Nya
Noktah hitam di belenggu hatiku bertanya
Mengapa kau hidup hanya untuk mati?
Mengapa kau berenang dalam air hanya untuk terbakar?
Mengapa kau diciptakan hanya untuk dihancurkan?
Amarah insan memang membinasa
Nafas Sang Nafsu memang kuasa
Ketidakpuasan manusia memang tiada pupus
Dosa orang-orang memang bermandikan darah
Kisah pendahulu yang mati, menakuti
Kisah yang dikenang, mengalahkan
Kisah masa depan, langkah yang terpaku
Kisah akhir jaman, jeritan kesakitan
Siapa yang mengajari?
Siapa yang menjelaskan?
Siapa yang melakukan?
Naluri berjawab bulat
Hati gelap tersesat
Makhluk garang tak bersahabat
Aku teriak suara tercekat
Bayang kegelapan datang terlambat
Acceptance of Difference
Salah siapakah apa yang terkandung dalam darah?
Salah siapakah dosa yang tidak bisa terarah?
Hidup dalam pilihan sendiri tapi terbakar
Atau hidup terpilih membohongi hati tapi bercahaya?
Tanpa cinta, manusia lara
Tanpa rasa, manusia nista
Tanpa jiwa, manusia hampa
Ke mana arah tuduhanmu menunjuk?
Rasa hati ditekan, sakit mencabik jiwa hingga musnah
Rasa hati diluapkan, sakit seperti pasak besi menghujam jantung
Apa yang kuketahui kalau detik setelahnya aku membisu?
Itu lebih sakit lagi seakan kau semut yang ditimpa langit
Aku berbeda lalu ditakuti
Tak bisa aku samarkan darahku
Aku merasakan dunia lah yang menjabat tangan burukku
Dunia yang tak pernah punya mata dan telinga
Dunia yang tidak peduli jutaan cacatku
Dunia yang tak pernah tahu arti diskriminasi
Bukan manusia yang ada di dalam-dalamnya
Bukan manusia yang segala-galanya
Seperti api diciptakan
Hidup, menerangi, membakar, mati
Seperti listrik diciptakan
Hidup, mendayai, menyetrum, mati
Tanyaku tidak habis
"Kenapa" atau "Mengapa" meluncur dari mulutku
Bagai peluru dari pistol dengan milyaran amunisi
Hampanya makhluk bodoh ini
Hanya dalam mimpi aku menemukannya
Sedetik di mana ketidaknormalan sangat berharga
Sedetik di mana aku mampu menjalin cinta tanpa aral
Ya... Dalam mimpi... Satu detik saja
Salah siapakah dosa yang tidak bisa terarah?
Hidup dalam pilihan sendiri tapi terbakar
Atau hidup terpilih membohongi hati tapi bercahaya?
Tanpa cinta, manusia lara
Tanpa rasa, manusia nista
Tanpa jiwa, manusia hampa
Ke mana arah tuduhanmu menunjuk?
Rasa hati ditekan, sakit mencabik jiwa hingga musnah
Rasa hati diluapkan, sakit seperti pasak besi menghujam jantung
Apa yang kuketahui kalau detik setelahnya aku membisu?
Itu lebih sakit lagi seakan kau semut yang ditimpa langit
Aku berbeda lalu ditakuti
Tak bisa aku samarkan darahku
Aku merasakan dunia lah yang menjabat tangan burukku
Dunia yang tak pernah punya mata dan telinga
Dunia yang tidak peduli jutaan cacatku
Dunia yang tak pernah tahu arti diskriminasi
Bukan manusia yang ada di dalam-dalamnya
Bukan manusia yang segala-galanya
Seperti api diciptakan
Hidup, menerangi, membakar, mati
Seperti listrik diciptakan
Hidup, mendayai, menyetrum, mati
Tanyaku tidak habis
"Kenapa" atau "Mengapa" meluncur dari mulutku
Bagai peluru dari pistol dengan milyaran amunisi
Hampanya makhluk bodoh ini
Hanya dalam mimpi aku menemukannya
Sedetik di mana ketidaknormalan sangat berharga
Sedetik di mana aku mampu menjalin cinta tanpa aral
Ya... Dalam mimpi... Satu detik saja
Blood on the Ground
Pasti ada mawar yang mekar
Walaupun kau membakar ribuan taman
Pasti ada burung yang terbang
Walaupun kau menghancurkan ribuan sarang
Pasti ada biji yang tumbuh
Walaupun kau menebas ribuan pohon
Pasti ada bayi yang lahir
Walaupun kau membunuh ribuan manusia
Di fana, mengenaskan
Di baka, tersiksa
Jiwa yang meronta mendamba setetes air
Daging hangus tak mampu mati
Darah membasahi langit
Dosa meliputi darah
Manusia digerogoti dosa
Bumi diinjak manusia
Walaupun kau membakar ribuan taman
Pasti ada burung yang terbang
Walaupun kau menghancurkan ribuan sarang
Pasti ada biji yang tumbuh
Walaupun kau menebas ribuan pohon
Pasti ada bayi yang lahir
Walaupun kau membunuh ribuan manusia
Di fana, mengenaskan
Di baka, tersiksa
Jiwa yang meronta mendamba setetes air
Daging hangus tak mampu mati
Darah membasahi langit
Dosa meliputi darah
Manusia digerogoti dosa
Bumi diinjak manusia
Shard of Mirror
Ini aku
Tak mengalir air dalam senduku
Ini aku
Menjelma gubahan kalbuku
Ini aku
Salah absolut dalam setiap selku
Ini aku
Aku yang mencoba mengerti luasnya noktah
Ini aku
Selalu membinasakan mimpi yang pedih
Ini aku
Dinding penghalang sanubari yang kumaki
Ini aku
Mempersalahkan pencipta di balik ruang besi
Ini aku
Yang jiwa, hati, dan pikirannya meninggalkan kesempurnaan
Tiada waktu berpikir mundur
Tiada ruang untuk berkata jujur
Tiada kehancuran untuk diberi salah
Nyatanya akulah yang kalah
Aku benci... Aku benci pada cermin
Atau mungkin akulah yang aku benci
Aku terus bertanya mengapa tanpa lelah
Jawaban menjauhi penangkapanku
Garis darah di cermin, pudar
Ikatan jiwa di cermin, tiada
Aku merasakan detak jantungku bergetar
Alam semesta memperkecil insanku
Hitam yang aku lihat melekat
Putih melapisi selainnya
Trilyunan cahaya di angan-angan
Muncul hilang kala mata terpejam
Ini aku
Kaku beku membatu ragaku
Ini aku
Semu palsu diam terpaku jiwaku
Tak mengalir air dalam senduku
Ini aku
Menjelma gubahan kalbuku
Ini aku
Salah absolut dalam setiap selku
Ini aku
Aku yang mencoba mengerti luasnya noktah
Ini aku
Selalu membinasakan mimpi yang pedih
Ini aku
Dinding penghalang sanubari yang kumaki
Ini aku
Mempersalahkan pencipta di balik ruang besi
Ini aku
Yang jiwa, hati, dan pikirannya meninggalkan kesempurnaan
Tiada waktu berpikir mundur
Tiada ruang untuk berkata jujur
Tiada kehancuran untuk diberi salah
Nyatanya akulah yang kalah
Aku benci... Aku benci pada cermin
Atau mungkin akulah yang aku benci
Aku terus bertanya mengapa tanpa lelah
Jawaban menjauhi penangkapanku
Garis darah di cermin, pudar
Ikatan jiwa di cermin, tiada
Aku merasakan detak jantungku bergetar
Alam semesta memperkecil insanku
Hitam yang aku lihat melekat
Putih melapisi selainnya
Trilyunan cahaya di angan-angan
Muncul hilang kala mata terpejam
Ini aku
Kaku beku membatu ragaku
Ini aku
Semu palsu diam terpaku jiwaku
Neuron
Esensi dasar mosi yang terlupakan
Inti distribusi sensasi yang tak digubris
Hanya meluap dari sepercik kicauan manusia
Tidakkah engkau berhasrat mencari jawabnya?
Yang menggerakkan ekstrimitas hampir tak berbatas
Yang membuatmu mengenali rasa dan hawa
Yang mempertajam indera untuk mengetahuinya
Yang menyadarkan keberadaanmu di dunia ini
Hidupnya menyanggupi
Aksinya memperkuat
Niatnya mempertahankan
Matinya membatukan
Selama kau melihat, mendengar, membaui, mengecap, dan menyentuh
Selama kau berjalan, berlari, menari, bertarung, dan bergerak
Selama kau terluka, kegelian, panas, membeku, dan kesakitan
Selama itulah saraf tersenyum setia menemanimu hingga hayat lenyap
Inti distribusi sensasi yang tak digubris
Hanya meluap dari sepercik kicauan manusia
Tidakkah engkau berhasrat mencari jawabnya?
Yang menggerakkan ekstrimitas hampir tak berbatas
Yang membuatmu mengenali rasa dan hawa
Yang mempertajam indera untuk mengetahuinya
Yang menyadarkan keberadaanmu di dunia ini
Hidupnya menyanggupi
Aksinya memperkuat
Niatnya mempertahankan
Matinya membatukan
Selama kau melihat, mendengar, membaui, mengecap, dan menyentuh
Selama kau berjalan, berlari, menari, bertarung, dan bergerak
Selama kau terluka, kegelian, panas, membeku, dan kesakitan
Selama itulah saraf tersenyum setia menemanimu hingga hayat lenyap
Dark Sun
Mengapa kerendahan membentuknya?
Mengapa kau tak merasakan kegelapan?
Dari melelehnya api
Tertuju cita-cita untuk memegang kendali
Hati yang teriris berkobar
Kobaran api hitam tak membunuh
Nyawa tak rusak, raga tak terbakar
Hanya hati hancur oleh panasnya
Dari langit api meronta
Turun tak melata tangga
Hangat menghangatkan hangus
Api turun dari tangisan matahari
Matahari bersinar terang melenyapkan
Sinarnya membutakan, meleburkan
Tapi ia gelap, ia hitam, ia merusak
Matahari yang hitam gelap gulita
Mengapa kau tak merasakan kegelapan?
Dari melelehnya api
Tertuju cita-cita untuk memegang kendali
Hati yang teriris berkobar
Kobaran api hitam tak membunuh
Nyawa tak rusak, raga tak terbakar
Hanya hati hancur oleh panasnya
Dari langit api meronta
Turun tak melata tangga
Hangat menghangatkan hangus
Api turun dari tangisan matahari
Matahari bersinar terang melenyapkan
Sinarnya membutakan, meleburkan
Tapi ia gelap, ia hitam, ia merusak
Matahari yang hitam gelap gulita
Poem
Hanya berkata dalam ketikan tombol rasa
Hanya mendengar bisikan dari pikiran
Hanya membuat kata aneh yang acapkali sumbang
Hanya memuntahkan hal irasional
Menjerit lolongan barisan huruf
Menampar logika tanpa darah percuma
Mengerti angin yang dihirup paru
Asing terhadap angin di luas mega
Kata tak bermakna, dalam tak berdasar
Do'a sahaja tersirat menggetarkan
Jemari lengkung menggantung asa
Dan Mahaindah melenyapkan hitam dosa
Indahnya alam tak mengelupas
Indahnya langit tak mungkin terbatas
Indahnya cinta hingga akhir nafas
Indahnya puisi tak terkurung kertas
Karya megah dipangku masa
Tulisan emas dari pujangga pemuji bahasa
Menghampakan ruang, menghentikan waktu
Memasung pikir dalam kerapian kalimat
Hanya mendengar bisikan dari pikiran
Hanya membuat kata aneh yang acapkali sumbang
Hanya memuntahkan hal irasional
Menjerit lolongan barisan huruf
Menampar logika tanpa darah percuma
Mengerti angin yang dihirup paru
Asing terhadap angin di luas mega
Kata tak bermakna, dalam tak berdasar
Do'a sahaja tersirat menggetarkan
Jemari lengkung menggantung asa
Dan Mahaindah melenyapkan hitam dosa
Indahnya alam tak mengelupas
Indahnya langit tak mungkin terbatas
Indahnya cinta hingga akhir nafas
Indahnya puisi tak terkurung kertas
Karya megah dipangku masa
Tulisan emas dari pujangga pemuji bahasa
Menghampakan ruang, menghentikan waktu
Memasung pikir dalam kerapian kalimat
Fire
Hangat kau mencari
Panas kau memaki
Kalor berteguh alam semesta
Manusia fana berteguh hati
Macis benderang ruang sekejap
Suluh cahaya kala angkasa melegam
Unggun berbinar, tungku terbakar
Matahari sakti menghujami radiasi
Kala menggigil, mengusapkan api
Kala dingin menusuk, menyiramkan api
Kala membeku, menyetubuhi api
Kala matahari di hadapan bumi, menggunjing api
Air diuapkan, tanah dilegamkan
Angin dimakan, kayu dikunyah
Pasir dikacakan, logam dilelehkan
Kehidupan dibakar, ketidakhidupan dihanguskan
Darinya tersisa bara, tersisa asap
Darinya tersisa arang, tersisa abu
Darinya tersisa tulang belulang
Darinya tersisa luka bumi yang sukar sirna
Api merah menyembur
Amarah terpendam kini terhambur
Alam yang terbakar membalas kesakitan
Gunung berlahar menodongkan kehancuran
Matahari di langit, magma di bumi
Api di darat, minyak di laut
Api yang suci menjelma wujud energi
Energi makhluk-makhluk yang belum kuasa mati
Panas kau memaki
Kalor berteguh alam semesta
Manusia fana berteguh hati
Macis benderang ruang sekejap
Suluh cahaya kala angkasa melegam
Unggun berbinar, tungku terbakar
Matahari sakti menghujami radiasi
Kala menggigil, mengusapkan api
Kala dingin menusuk, menyiramkan api
Kala membeku, menyetubuhi api
Kala matahari di hadapan bumi, menggunjing api
Air diuapkan, tanah dilegamkan
Angin dimakan, kayu dikunyah
Pasir dikacakan, logam dilelehkan
Kehidupan dibakar, ketidakhidupan dihanguskan
Darinya tersisa bara, tersisa asap
Darinya tersisa arang, tersisa abu
Darinya tersisa tulang belulang
Darinya tersisa luka bumi yang sukar sirna
Api merah menyembur
Amarah terpendam kini terhambur
Alam yang terbakar membalas kesakitan
Gunung berlahar menodongkan kehancuran
Matahari di langit, magma di bumi
Api di darat, minyak di laut
Api yang suci menjelma wujud energi
Energi makhluk-makhluk yang belum kuasa mati
Words
Kata-kataku tak bermakna
Berhembus udara sepi
Pahammu meninggikan
Dari dalam tulisan yang melayang
Kalimat-kalimatku tak tertata
Kebekuan hatimu rasa
Berpikirnya hari serasa lambat
Menekan kegundahan, menutup wujud
Getarannya aku tak menangkap
Gelombangnya aku tak melihat
Ramahnya hilang tergerus
Hati mulai menghitam
Berhembus udara sepi
Pahammu meninggikan
Dari dalam tulisan yang melayang
Kalimat-kalimatku tak tertata
Kebekuan hatimu rasa
Berpikirnya hari serasa lambat
Menekan kegundahan, menutup wujud
Getarannya aku tak menangkap
Gelombangnya aku tak melihat
Ramahnya hilang tergerus
Hati mulai menghitam
Prayer
Kepala tertunduk khusyuk dalam khidmat
Tangan tengadah mengarah Sang Maha
Mulut meminta dalam kefanaan
Hati berdebar bergetar menggelepar
Mata berair tanda rindu terukir
Jiwa diam dalam besutan keinginan rohani
Pikiran mengharapkan nyatanya sajak
Kepercayaan iman bak pondasi yang suci
Kulafalkan lantunan do'a dari hati
Kubernyanyi dalam heningnya nuansa sunyi
Kutargetkan kata-kataku demi yang di hati
Kuresapi dalamnya ruang niat
Yang kuinginkan adalah kebaikan
Yang kucinta biarkan gembira
Dari sanalah hati ini bersinar
Kumpulan rasa yang berharga
Dari-Nya semua ini nyata
Senyummu terkristal dalam mata memori
Sedihmu teruapkan hilang tak berjejak
Nyatanya hanya itu inginku
Tanganku menampar dikuasai setan
Kakiku menendang digerakkan iblis
Tubuhku lumpuh dibius amarah api
Jiwakulah berucap koneksi pencipta surga
Dalam jajar kata ini aku menghubungi-Nya
Dalam indahnya kalimat ini aku meminta-Nya
Dalam teduh tenang nurani ini aku merindu-Nya
Dalam lemah seluruh kuasaku ini aku merasakan-Nya
Dalam do'a, aku mengingatmu
Dalam hayatmu walau tak terkenang
Dalam hikayatmu walau tak tersirat
Dalam hakekatmu walau tak tersebut
Dalam harkatmu walau tak berperan
Dalam hajatmu walau tak terpanggil
Dalam tirakatmu walau tak terpilih
Dalam sekaratmu walau tak bersamamu
Dalam do'aku, senyummu prioritas
Dalam do'aku, bahagiamu berkualitas
Dalam do'aku, rezekimu berkuantitas
Dalam do'aku, di mana kau tak pernah tahu
Tangan tengadah mengarah Sang Maha
Mulut meminta dalam kefanaan
Hati berdebar bergetar menggelepar
Mata berair tanda rindu terukir
Jiwa diam dalam besutan keinginan rohani
Pikiran mengharapkan nyatanya sajak
Kepercayaan iman bak pondasi yang suci
Kulafalkan lantunan do'a dari hati
Kubernyanyi dalam heningnya nuansa sunyi
Kutargetkan kata-kataku demi yang di hati
Kuresapi dalamnya ruang niat
Yang kuinginkan adalah kebaikan
Yang kucinta biarkan gembira
Dari sanalah hati ini bersinar
Kumpulan rasa yang berharga
Dari-Nya semua ini nyata
Senyummu terkristal dalam mata memori
Sedihmu teruapkan hilang tak berjejak
Nyatanya hanya itu inginku
Tanganku menampar dikuasai setan
Kakiku menendang digerakkan iblis
Tubuhku lumpuh dibius amarah api
Jiwakulah berucap koneksi pencipta surga
Dalam jajar kata ini aku menghubungi-Nya
Dalam indahnya kalimat ini aku meminta-Nya
Dalam teduh tenang nurani ini aku merindu-Nya
Dalam lemah seluruh kuasaku ini aku merasakan-Nya
Dalam do'a, aku mengingatmu
Dalam hayatmu walau tak terkenang
Dalam hikayatmu walau tak tersirat
Dalam hakekatmu walau tak tersebut
Dalam harkatmu walau tak berperan
Dalam hajatmu walau tak terpanggil
Dalam tirakatmu walau tak terpilih
Dalam sekaratmu walau tak bersamamu
Dalam do'aku, senyummu prioritas
Dalam do'aku, bahagiamu berkualitas
Dalam do'aku, rezekimu berkuantitas
Dalam do'aku, di mana kau tak pernah tahu
Calmness
Satu kata menggambarkan suasana ini
Satu kata mengilustrasikan ruang ini
Satu kata menjelaskan perasaan ini
Ketenangan
Dunia bukan terbungkam
Dunia tidak membisu
Ini caranya merenung
Renung masa hantaran sendu
Jiwa-jiwa memagut rasa suka
Mematung dalam lamunan mereka
Raga diam pikir bicara
Menenangkan tatkala seteru
Dalam do'a, selamat pun tiba
Ketenangan menaungi inginnya hati
Khusyuk ucapan merawat kasih
Dalam suratan yang khidmat
Tenang batin memikirkan diri
Sejenak tak khawatir akan nasib
Bimbang jauh disingkirkan
Tenang dalam gejolak prahara
Satu kata mengilustrasikan ruang ini
Satu kata menjelaskan perasaan ini
Ketenangan
Dunia bukan terbungkam
Dunia tidak membisu
Ini caranya merenung
Renung masa hantaran sendu
Jiwa-jiwa memagut rasa suka
Mematung dalam lamunan mereka
Raga diam pikir bicara
Menenangkan tatkala seteru
Dalam do'a, selamat pun tiba
Ketenangan menaungi inginnya hati
Khusyuk ucapan merawat kasih
Dalam suratan yang khidmat
Tenang batin memikirkan diri
Sejenak tak khawatir akan nasib
Bimbang jauh disingkirkan
Tenang dalam gejolak prahara
Past
Aku membeku merenungi
Kerinduan yang samar-samar
Entah mengapa memori masih berdetak
Masanya pun telah sirna
Gelagat tak bisa dilihat
Yang mendatang hanya sesal
Terbenamnya rasa semu
Menjerat menggelayuti kemantapan niat
Memori busuk berkarang hina
Kenistaan mempernyata dosa
Aib menggunung tak meletus
Masa lalu yang buruk mengisi relung
Getaran cinta memeluk sukma
Gejolak bahagia tiada niat melupa
Kuasa masa dilumpuhkan
Masa lalu yang baik mendorong bahtera hidup
Waktu tak mampu ditipu
Waktu tak mampu diulang
Waktu tak mampu kembali
Masa lalu dari cahaya
Waktu tak mampu menutup
Waktu tak mampu mengalihkan
Waktu tak mampu menghilangkan
Masa lalu dari kegelapan
Mempelajari beban pikir
Menanggung beratnya jejak
Menerima luka berkesembuhan
Menyanggupi kehilangan
Masa lalu bungkam tak menjelaskan
Masa lalu dingin tak merasakan
Masa lalu kejam tak mengasihani
Di sana bukti dosa, amarah, dan keburukan
Masa lalu terang tak menggelapkan
Masa lalu indah tak menyedihkan
Masa lalu gembira tak menangis
Di sana bukti cinta, kasih, dan kebaikan
Kerinduan yang samar-samar
Entah mengapa memori masih berdetak
Masanya pun telah sirna
Gelagat tak bisa dilihat
Yang mendatang hanya sesal
Terbenamnya rasa semu
Menjerat menggelayuti kemantapan niat
Memori busuk berkarang hina
Kenistaan mempernyata dosa
Aib menggunung tak meletus
Masa lalu yang buruk mengisi relung
Getaran cinta memeluk sukma
Gejolak bahagia tiada niat melupa
Kuasa masa dilumpuhkan
Masa lalu yang baik mendorong bahtera hidup
Waktu tak mampu ditipu
Waktu tak mampu diulang
Waktu tak mampu kembali
Masa lalu dari cahaya
Waktu tak mampu menutup
Waktu tak mampu mengalihkan
Waktu tak mampu menghilangkan
Masa lalu dari kegelapan
Mempelajari beban pikir
Menanggung beratnya jejak
Menerima luka berkesembuhan
Menyanggupi kehilangan
Masa lalu bungkam tak menjelaskan
Masa lalu dingin tak merasakan
Masa lalu kejam tak mengasihani
Di sana bukti dosa, amarah, dan keburukan
Masa lalu terang tak menggelapkan
Masa lalu indah tak menyedihkan
Masa lalu gembira tak menangis
Di sana bukti cinta, kasih, dan kebaikan
Hope
Tercipta berencana
Indah terdamping bumi nirwana
Jannah sejuk memanggil lengkung jiwa
Harapan... Surga...
Kala batin merindu tawa sejati
Masa senyuman masygul tak berceria
Waktu memaparkan memori
Harapan... Kebahagiaan...
Dekap sekejap berharap-harapan
Sadar aral berkelakar sakral
Benang kenangan mengekang
Menginginkan kekal bersarang
Cahaya menerangi barat, timur berbayang
Api membakar barat, timur berkehangatan
Berharap tinggi, direndahkan kuasa.
Berharap penuh, dikosongkan kemuliaan.
Untuk apa mengharap bintang, bila di dasar samudera
Untuk apa mengharap dunia, bila di ambang kesakitan
Harapan melintang hidup dan mati
Harapan hancur hidup tak berkesudahan
Indah terdamping bumi nirwana
Jannah sejuk memanggil lengkung jiwa
Harapan... Surga...
Kala batin merindu tawa sejati
Masa senyuman masygul tak berceria
Waktu memaparkan memori
Harapan... Kebahagiaan...
Dekap sekejap berharap-harapan
Sadar aral berkelakar sakral
Benang kenangan mengekang
Menginginkan kekal bersarang
Cahaya menerangi barat, timur berbayang
Api membakar barat, timur berkehangatan
Berharap tinggi, direndahkan kuasa.
Berharap penuh, dikosongkan kemuliaan.
Untuk apa mengharap bintang, bila di dasar samudera
Untuk apa mengharap dunia, bila di ambang kesakitan
Harapan melintang hidup dan mati
Harapan hancur hidup tak berkesudahan
Audition
Bisikan angin menyusup lembut
Nyaring lirih sahut menyahut
Teriakan gelegar menghancurkan
Itu telingaku menerimanya
Keindahan berjajar merdu
Nada melayang mengatur barisan
Simfoni alam merenggut tangis
Itu telingaku mendengarnya
Telingaku menangkap gema gemuruh
Gaung mengalir merasai bumi
Pekaku suara luas mengembang
Bergetar syahdu kreasi nada
Pendengaran...
Getaran...
Suara...
Suara-suara membujuk
Dengannya aku mampu mencirimu
Bersamanya aku ketahui perasaanmu
Tanpanya aku tuli terperdaya ilusi
Pekak, mengandalkan bahkan yang hilang
Nyaring, lirih, merdu, dan sumbang
Getar, gelombang, gema, dan gaung
Pekik, isak, erang, dan ringkik
Aku dengar semua hal-hal tersebut
Vokal, lagu, musik, dan instrumen
Merdu, sumbang, melengking, dan parau
Guntur, arus, ledakan, dan dentingan
Aku hening khidmat karenanya
Mendengar tawa kebahagiaan sejati
Mendengar tangis sengsara hati
Mendengar teriakan sakitnya fana
Mendengar sepinya raga tak berjiwa lagi
Takdir tiada mampu beralasan
Waktu tiada kena diulangkan
Hanya menguping bisikan rintih
Telinga, pendengaran, audisi, dan getaran
Nyaring lirih sahut menyahut
Teriakan gelegar menghancurkan
Itu telingaku menerimanya
Keindahan berjajar merdu
Nada melayang mengatur barisan
Simfoni alam merenggut tangis
Itu telingaku mendengarnya
Telingaku menangkap gema gemuruh
Gaung mengalir merasai bumi
Pekaku suara luas mengembang
Bergetar syahdu kreasi nada
Pendengaran...
Getaran...
Suara...
Suara-suara membujuk
Dengannya aku mampu mencirimu
Bersamanya aku ketahui perasaanmu
Tanpanya aku tuli terperdaya ilusi
Pekak, mengandalkan bahkan yang hilang
Nyaring, lirih, merdu, dan sumbang
Getar, gelombang, gema, dan gaung
Pekik, isak, erang, dan ringkik
Aku dengar semua hal-hal tersebut
Vokal, lagu, musik, dan instrumen
Merdu, sumbang, melengking, dan parau
Guntur, arus, ledakan, dan dentingan
Aku hening khidmat karenanya
Mendengar tawa kebahagiaan sejati
Mendengar tangis sengsara hati
Mendengar teriakan sakitnya fana
Mendengar sepinya raga tak berjiwa lagi
Takdir tiada mampu beralasan
Waktu tiada kena diulangkan
Hanya menguping bisikan rintih
Telinga, pendengaran, audisi, dan getaran
Vision
Tarian cahaya langit
Gemulai sinar berarakan
Binar terang redup menghunus
Itu mataku menangkapnya
Corak bumi tak senada pualam
Warna langit tak sepadan arang
Ragam bunga meronakan pikir
Itu mataku menjelaskan
Mataku fokus tak berfokus
Ain memandang berkelanjutan
Netra menyaksikan hal perihal
Sekelebat juga sekalian
Pandangan...
Penglihatan...
Penyaksian...
Arah-arah mengarahkan
Dengannya aku mampu mengenalimu
Melaluinya aku mampu mengerti maksudmu
Tanpanya aku tak mampu memujimu
Aku berilusi dalam sendu
Jarak, ruang, luas, dan volume
Warna, cahaya, kilap, pola, dan bentuk
Kecepatan, getar, gelombang, dan gerak
Aku saksi segala itu
Hitam, putih, mulus, dan kasar
Cantik, rupawan, jangkung, dan gemuk
Senyum, sedih, tangis, dan tawa
Aku saksi mereka itu
Luar biasanya lensa biologis ini
Mengenali tanpa merasai
Memandang dan mengerti
Terhubung hati, pikiran, dan jiwa
Tak tersembunyi dari emosi
Tak terketahui dari sanubari
Saraf menguasai stabilitas diri
Mata, ain, netra, visi, dan penglihatan
Gemulai sinar berarakan
Binar terang redup menghunus
Itu mataku menangkapnya
Corak bumi tak senada pualam
Warna langit tak sepadan arang
Ragam bunga meronakan pikir
Itu mataku menjelaskan
Mataku fokus tak berfokus
Ain memandang berkelanjutan
Netra menyaksikan hal perihal
Sekelebat juga sekalian
Pandangan...
Penglihatan...
Penyaksian...
Arah-arah mengarahkan
Dengannya aku mampu mengenalimu
Melaluinya aku mampu mengerti maksudmu
Tanpanya aku tak mampu memujimu
Aku berilusi dalam sendu
Jarak, ruang, luas, dan volume
Warna, cahaya, kilap, pola, dan bentuk
Kecepatan, getar, gelombang, dan gerak
Aku saksi segala itu
Hitam, putih, mulus, dan kasar
Cantik, rupawan, jangkung, dan gemuk
Senyum, sedih, tangis, dan tawa
Aku saksi mereka itu
Luar biasanya lensa biologis ini
Mengenali tanpa merasai
Memandang dan mengerti
Terhubung hati, pikiran, dan jiwa
Tak tersembunyi dari emosi
Tak terketahui dari sanubari
Saraf menguasai stabilitas diri
Mata, ain, netra, visi, dan penglihatan
Instinct
Naluri, apa itu?
Keinginankukah?
Kemauan makhluk di sekitarkukah?
Kehendak-Nyakah?
Petunjuk garis tak terlihat
Mengarahkan namun tak berwujud
Identifikasi terdistorsi
Mengilustrasikan bayang semu
Wajib mauku terlengkung
Harus inginku terhalang
Denotasi mencampuri
Konotasi menggambarkan jalan
Baik buruk ujung tak nampak
Terang gelap tak terintip
Bergerak maju, tulang membeku
Pikiran kelabu meragu
Instruksi terkoreksi
Ilusi terdetonasi
Mobilisasi terparalisis
Revolusi terrealisasi
Naluriku berbicara
Bicara tak berbahasa
Untuk tak mengakui
Naluriku...
Kesadaran, bukan
Kegilaan, mungkin
Perbedaan, pasti
Rasanya? Bebas
Keinginankukah?
Kemauan makhluk di sekitarkukah?
Kehendak-Nyakah?
Petunjuk garis tak terlihat
Mengarahkan namun tak berwujud
Identifikasi terdistorsi
Mengilustrasikan bayang semu
Wajib mauku terlengkung
Harus inginku terhalang
Denotasi mencampuri
Konotasi menggambarkan jalan
Baik buruk ujung tak nampak
Terang gelap tak terintip
Bergerak maju, tulang membeku
Pikiran kelabu meragu
Instruksi terkoreksi
Ilusi terdetonasi
Mobilisasi terparalisis
Revolusi terrealisasi
Naluriku berbicara
Bicara tak berbahasa
Untuk tak mengakui
Naluriku...
Kesadaran, bukan
Kegilaan, mungkin
Perbedaan, pasti
Rasanya? Bebas
Dream
Siap dalam halusinasi
Abstraksi geliat mempercepat fiksi
Sadarku kubenamkan
Demi dunia yang menari-nari
Pintunya harus bertidur
Lorongnya harus berlelap
Ruangnya harus berketenangan
Isinya harus berpenglihatan
Dunia di mana aku terbang
Dunia di mana aku berenang
Dunia di mana aku tak terkekang
Dunia di mana aku tak bimbang
Halusinasi memeluk erat cerita
Ilusi menemani gejolak niat
Fatamorgana mengumpanku berkhayal
Mimpi meletakkan kerelaan
Aku ingin...
Aku mau...
Aku berkehendak...
Aku bermimpi arti
Menari menikmati jika sang raga bisa
Berteriak puas tak terdengar
Terjebak menjadi keinginan
Tempat bertoleransi
Kuperlambat waktu di sana
Kuperluas ruang di sana
Kupertinggi angkasa di sana
Kubinasakan gangguan di sana
Adalah di mana komentar tak berbunyi
Sebab mengapa senyuman tak asli
Cara bagaimana kehidupan tak menakjubkan lagi
Waktu kapan jam tak terbaca
Mimpi, aku datang
Peluklah aku erat dan hangat
Terima kasih telah menungguku pulang
Terima kasih jerih payahmu untukku
Abstraksi geliat mempercepat fiksi
Sadarku kubenamkan
Demi dunia yang menari-nari
Pintunya harus bertidur
Lorongnya harus berlelap
Ruangnya harus berketenangan
Isinya harus berpenglihatan
Dunia di mana aku terbang
Dunia di mana aku berenang
Dunia di mana aku tak terkekang
Dunia di mana aku tak bimbang
Halusinasi memeluk erat cerita
Ilusi menemani gejolak niat
Fatamorgana mengumpanku berkhayal
Mimpi meletakkan kerelaan
Aku ingin...
Aku mau...
Aku berkehendak...
Aku bermimpi arti
Menari menikmati jika sang raga bisa
Berteriak puas tak terdengar
Terjebak menjadi keinginan
Tempat bertoleransi
Kuperlambat waktu di sana
Kuperluas ruang di sana
Kupertinggi angkasa di sana
Kubinasakan gangguan di sana
Adalah di mana komentar tak berbunyi
Sebab mengapa senyuman tak asli
Cara bagaimana kehidupan tak menakjubkan lagi
Waktu kapan jam tak terbaca
Mimpi, aku datang
Peluklah aku erat dan hangat
Terima kasih telah menungguku pulang
Terima kasih jerih payahmu untukku
Isolation
Apa engkau tahu takdir?
Absolut terbungkus rapi
Pasti namun terlihat kabur
Layar berlapis membentang
Takdir yang perih teori dan praktiknya
Mudah diucap serta didengar
Merasakannya membawa sakit
Itulah... Kesendirian
Di mana kau lahir sebagai satu makhluk
Di mana kau mati sebaga satu makhluk juga
Berpikir mendalami pikir
Terjun bebas dalam wahana intisari
Sendiri memapah cerita
Sendiri menanggung beban
Sendiri memikul luka
Sendiri mengusung waktu
Eksistensi tak lagi terasa
Absensi memberkahi kesendirian
Isolasi membuatnya riil
Depresi imbas yang diterima
Visi dari mata hanyalah skala abu-abu
Audisi dari telinga hanyalah satu nada
Olfaksi dari hidung tak membau apapun
Gustasi dari lidah tak mengecap satupun
Sendiri dalam jeruji adaptasi
Terisolir dalam desakan spasial
Sebagai noktah mikro pada kertas seluas samudera
Tanpa arti, tanpa nosi, tanpa hati
Berjalan kaku menembus waktu
Beraksi tanpa niat dari hati
Berkelakar tak beremosi
Seperti makhluk terrobotisasi
Sehelai daun yang gugur
Setetes air dari langit
Separtikel debu yang melayang
Sesendiri itulah kalbuku
Absolut terbungkus rapi
Pasti namun terlihat kabur
Layar berlapis membentang
Takdir yang perih teori dan praktiknya
Mudah diucap serta didengar
Merasakannya membawa sakit
Itulah... Kesendirian
Di mana kau lahir sebagai satu makhluk
Di mana kau mati sebaga satu makhluk juga
Berpikir mendalami pikir
Terjun bebas dalam wahana intisari
Sendiri memapah cerita
Sendiri menanggung beban
Sendiri memikul luka
Sendiri mengusung waktu
Eksistensi tak lagi terasa
Absensi memberkahi kesendirian
Isolasi membuatnya riil
Depresi imbas yang diterima
Visi dari mata hanyalah skala abu-abu
Audisi dari telinga hanyalah satu nada
Olfaksi dari hidung tak membau apapun
Gustasi dari lidah tak mengecap satupun
Sendiri dalam jeruji adaptasi
Terisolir dalam desakan spasial
Sebagai noktah mikro pada kertas seluas samudera
Tanpa arti, tanpa nosi, tanpa hati
Berjalan kaku menembus waktu
Beraksi tanpa niat dari hati
Berkelakar tak beremosi
Seperti makhluk terrobotisasi
Sehelai daun yang gugur
Setetes air dari langit
Separtikel debu yang melayang
Sesendiri itulah kalbuku
Night
Hening suara tak berkemauan
Diam gerak tak berkemampuan
Samapta jiwa tak berketenangan
Nestapa batin tak berkeadaan
Di dalamnya aku istirahat
Istirahat dari penat yang berkutat
Di dalamnya aku lelah
Lelah mengeluh berdalih salah
Di dalamnya aku diam
Diam tak bergumam, diam bak aku kram
Di dalamnya aku sendiri
Sendiri tanpa arti dan jati diri
Cepat bila aku tak hiraukan
Lambat bila aku mengijinkannya memelukku
Sempit bila aku tak pedulikan
Luas bila aku mengijinkannya menyelubungiku
Langit hitam menggelapkan nur
Gemintang tiba menorehkan tanda
Sekejap sunyi merasuk tulang-tulang kokoh
Terang angkasa patroli bulan
Sihir waktu membedakan hajat
Bagai Yin menyeimbangkan Yang
Selaraskan perlakuan hidup berbatas
Kuasa nujum membelai lembut
Sehitam kemelutnya malam
Sesepi sendirinya malam
Seterang cahayanya malam
Suasa bumi bersiang emas
Malam tiba rasa hakiki
Tugas rotasi membebani
Menggiring wajah asli Sang Bumi
Gelap senyaplah penampang asli
Diam gerak tak berkemampuan
Samapta jiwa tak berketenangan
Nestapa batin tak berkeadaan
Di dalamnya aku istirahat
Istirahat dari penat yang berkutat
Di dalamnya aku lelah
Lelah mengeluh berdalih salah
Di dalamnya aku diam
Diam tak bergumam, diam bak aku kram
Di dalamnya aku sendiri
Sendiri tanpa arti dan jati diri
Cepat bila aku tak hiraukan
Lambat bila aku mengijinkannya memelukku
Sempit bila aku tak pedulikan
Luas bila aku mengijinkannya menyelubungiku
Langit hitam menggelapkan nur
Gemintang tiba menorehkan tanda
Sekejap sunyi merasuk tulang-tulang kokoh
Terang angkasa patroli bulan
Sihir waktu membedakan hajat
Bagai Yin menyeimbangkan Yang
Selaraskan perlakuan hidup berbatas
Kuasa nujum membelai lembut
Sehitam kemelutnya malam
Sesepi sendirinya malam
Seterang cahayanya malam
Suasa bumi bersiang emas
Malam tiba rasa hakiki
Tugas rotasi membebani
Menggiring wajah asli Sang Bumi
Gelap senyaplah penampang asli
Sadness
Datang...
Bersarang...
Menyerang...
Menghilang...
Itu rasa, mereka bilang
Itu lara, mereka samakan
Itu dilema, mereka terka
Itu merana, mereka simpulkan
Mengusik tenang batin bertapa
Meruntuhkan aura tanpa berwarna
Menjerat hawa berkumparan
Memutar balik jentera ingatan
Siluet masa sedih terbenak
Membekukan tanpa menggigil
Ingin kubergerak, hati tak menyanggupi
Rusakkah aku?
Hati itu rapuh
Tak bertameng, tak berbenteng
Retak, tipis, dan rentan
Terjamah ia bergetar
Koneksi pikiranku menyambut hangat
Kuingat inilah kesedihan
Sebab masih ambigu
Tak mampu diri mencerna
Sulit semuanya kuterjemahkan
Hanya nurani ini butuh bimbingan
Api marah, air tenangkan
Hati sedih, waktu terangkan
Kusaksikan indraku kian tumpul
Sedih ini sengsara unggul
Sanubari susah tak berjudul
Senyum sahaja tak bersimpul
Waktu, aku rindu
Ruang, aku ragu
Hati, aku bingung
Jiwa, aku terhubung
Biarkan ketidaksadaran menelannya bulat-bulat
Terpikir kuasa hati tak mampu memahami
Pudarnya hitam legam memori berubah kelabu
Gantinya kiranya rasa ria terkenang jagad
Bersarang...
Menyerang...
Menghilang...
Itu rasa, mereka bilang
Itu lara, mereka samakan
Itu dilema, mereka terka
Itu merana, mereka simpulkan
Mengusik tenang batin bertapa
Meruntuhkan aura tanpa berwarna
Menjerat hawa berkumparan
Memutar balik jentera ingatan
Siluet masa sedih terbenak
Membekukan tanpa menggigil
Ingin kubergerak, hati tak menyanggupi
Rusakkah aku?
Hati itu rapuh
Tak bertameng, tak berbenteng
Retak, tipis, dan rentan
Terjamah ia bergetar
Koneksi pikiranku menyambut hangat
Kuingat inilah kesedihan
Sebab masih ambigu
Tak mampu diri mencerna
Sulit semuanya kuterjemahkan
Hanya nurani ini butuh bimbingan
Api marah, air tenangkan
Hati sedih, waktu terangkan
Kusaksikan indraku kian tumpul
Sedih ini sengsara unggul
Sanubari susah tak berjudul
Senyum sahaja tak bersimpul
Waktu, aku rindu
Ruang, aku ragu
Hati, aku bingung
Jiwa, aku terhubung
Biarkan ketidaksadaran menelannya bulat-bulat
Terpikir kuasa hati tak mampu memahami
Pudarnya hitam legam memori berubah kelabu
Gantinya kiranya rasa ria terkenang jagad
Rain
Menukik laju bak misil
Memberatkan uap yang jenuh terkandung
Berorasi gemuruh mengajak kawan
Naik sebagai uap, turun sebagai air
Berteduh raga dibasuh
Dingin menggigil meresap
Kehangatan dalam kesenduan suasana
Angkasa kelabu mendekat tanah
Suara tak terkedap
Suara air yang membetur kulit bumi
Suara bumi yang suka duka
Membentur halus tak berdarah
Hujan bersebut arak-arakan
Manusia teduh di perlindungan
Menatap benci, merasa sendu
Tiap air membawa ingatan
Yang kuat bilang hanya air
Yang cepat bilang pasti berakhir
Yang damai bilang menyejukkan
Yang marah bilang menghambat kegiatan
Fenomena bumi, tangisan diri
Membasuh debu yang melekat di ari
Mengangkat air ke tanah tandus
Membuat nadi di daging yang kurus
Itu alam, nyanyian bumi
Itu tangannya, caranya mandi
Dari kekejian orang tak berperi
Dari pengotoran manusia sok suci
Hujan, jatuhlah
Turun menyembuhkan luka Sang Gaia
Menghujam menyirami ragam hayati
Air yang terangkat
Memberatkan uap yang jenuh terkandung
Berorasi gemuruh mengajak kawan
Naik sebagai uap, turun sebagai air
Berteduh raga dibasuh
Dingin menggigil meresap
Kehangatan dalam kesenduan suasana
Angkasa kelabu mendekat tanah
Suara tak terkedap
Suara air yang membetur kulit bumi
Suara bumi yang suka duka
Membentur halus tak berdarah
Hujan bersebut arak-arakan
Manusia teduh di perlindungan
Menatap benci, merasa sendu
Tiap air membawa ingatan
Yang kuat bilang hanya air
Yang cepat bilang pasti berakhir
Yang damai bilang menyejukkan
Yang marah bilang menghambat kegiatan
Fenomena bumi, tangisan diri
Membasuh debu yang melekat di ari
Mengangkat air ke tanah tandus
Membuat nadi di daging yang kurus
Itu alam, nyanyian bumi
Itu tangannya, caranya mandi
Dari kekejian orang tak berperi
Dari pengotoran manusia sok suci
Hujan, jatuhlah
Turun menyembuhkan luka Sang Gaia
Menghujam menyirami ragam hayati
Air yang terangkat
Subscribe to:
Comments (Atom)