Aku bermimpi, mimpi waktu
Ruangku sempit, berada titik kecil
Meneriaki makhluk lain yang aku jauh
Sesadarnya aku tiada, nyata, memori, lalu kehampaan
Kenang pikir aku bertempat, berdeteksi, terlacak
Sungguh wujud kias cangkang dari ingatan
Satu jari berganti posisi
Waktu dunia menggelepar, guncang yang eksis
Impuls bersentuh duniawi, respon khayalan sejati
Trilyunan kata-kata terucap tak berjanji
Manfaat terlindung senyap ketidaktahuan
Bola mata menatap eon, menatap era, menatap cermin
Hati dihunus ratusan tombak, aku lembut menerima
Tangisku hancur sedetik berharga
Aku sel yang mati, aku sel yang sendiri
Bencimu menampar nyamannya takdirku
Tentu... Ya, aku berbeda...
Bersimpah darah genangan lumpur
Mengais dasarnya tak timbul
Merengek ratapan siklus
Tuhan kusalahkan
Aku getir menatap dosa
Nikmat ruah selainku, sekecil amarah menggebu hayat
Benarkah?
Lalu apa? Bahagianya?
Hasratku lahar gunung yang berdetak
Putus kupotong hubungan nurani
Aku sedih, senang, marah, akulah yang ditindih
No comments:
Post a Comment