Tuesday, January 12, 2016

Relinquishing

Bodohku kadang menangkap
Aku menyalahkan yang tak terlihat
Dalam hati ingin meledak
Kutahan batasku hancur jua

Kilau silau menggiring ilusi
Mataku terkesiap takjub memuji
Kagum mengagumi kebanggan
Memuja dalam bisikan hati

Kala aku bak tahu jagad raya
Aku menampar pingsannya kalbuku
Ingkar aku terhadap rasa
Aku memusuhi kalbuku sendiri

Pikirku dalam sederhana
Mengalah pada hakikinya kisah
Aku tidak takut mati terbakar
Takutku kau hancur kubakar

Salah-salahku benar sejati
Dosa-dosaku kuhimpun nurani
Bahagiaku menatap kau pergi
Aku melepas cahaya pagi

Senyumku getir menggigit pahit
Kurasakan tangisku mengering
Rela ini kubangun kokoh
Asal bahagiamu adalah hal pengganti

Ruang Cermin

I saw myself smile 
I saw it was fake 
I saw myself sad 
I saw it was an anger 
I saw myself laugh 
I saw it was just moving jaws
I saw myself live 
I saw its sin
 
I am looking into it 
Straight through 
I am watching my move 
Dancing in craziness
 
My eyes shade their illusion 
Provoke irritating mention 
I tear the mirror in vengeful 
Then I realize my blood isn't full
 
In the room where I can stare 
In the room where I was crazy 
Now, I am living in depravity 
Waiting judgment inside me

Cinta dalam Pusara

Who knows about love? 
Who knows about someone's love? 
Who knows about his/her love? 
Destiny do
 
Mine is empty 
A shell without its life 
An empty hall 
A feelingless heart
 
I was told about love 
A sweet and long-lasting one 
Happiness that be carved then vanished 
I realized that love is fairytale sugar
 
But, I wonder, I wander 
Love is still searchable 
The way isn't always straight 
Slope, sledge, sharp, scarful
 
I found malice covered by sweet words 
I found faith, but I was lustless 
I found perfection, but it had two sides 
Yes, perfect bivurcation
 
I loved it with my soul and faith 
I cared it with all of my time and space 
I hugged closely and missed it extremely 
Then I kicked
 
It's between darkness and light 
A righteous being shall bear bright side, I knew 
Foolish me, I was still hoping 
I offered suicide to my love
 
I smiled fakely to light that seems honest 
They taught their kind how devilish my eyes 
They created fear full by nothing but lies 
Then I hide, hiding from normality
 
Love can easily be spoken 
It kills me 
Love can give you happiness 
It tortures me 
Love can guide you to your life 
It hurts me 
Love is love 
It makes me alone

A Butterfly in a Glass

Sejuk tetesan embun
Menari di atas jurang
Redup lindungan dahan
Menunduk di tepi kehidupan

Tangisan yang terbakar
Melodi yang retak
Detak jantung meledak-ledak
Senyummu nyaman dalam kepalsuan

Semua tahu takdir apa
Semua tahu nasib apa
Semua tahu kehidupan
Hanya kadarnya sedetik masa

Sejarah kadang membawa kekuatan
Belajar dalam pengalaman
Mengetahui jalan dalam kepastian
Buta dalam pengetahuan

Sekejap cahaya datang
Membawa jawab terang
Menjawab satu tanya
Kekal dalam pengertian

Engkau hidup bagai kupu-kupu
Dalam gelas kecil jernih tak berwarna
Kau tahu dunia menarik dan mendorong jiwamu
Namun kau mati dalam kakunya raga

Nirvana

Aku bermimpi, mimpi waktu
Ruangku sempit, berada titik kecil
Meneriaki makhluk lain yang aku jauh
Sesadarnya aku tiada, nyata, memori, lalu kehampaan

Kenang pikir aku bertempat, berdeteksi, terlacak
Sungguh wujud kias cangkang dari ingatan
Satu jari berganti posisi
Waktu dunia menggelepar, guncang yang eksis

Impuls bersentuh duniawi, respon khayalan sejati
Trilyunan kata-kata terucap tak berjanji
Manfaat terlindung senyap ketidaktahuan
Bola mata menatap eon, menatap era, menatap cermin

Hati dihunus ratusan tombak, aku lembut menerima
Tangisku hancur sedetik berharga
Aku sel yang mati, aku sel yang sendiri
Bencimu menampar nyamannya takdirku

Tentu... Ya, aku berbeda...
Bersimpah darah genangan lumpur
Mengais dasarnya tak timbul
Merengek ratapan siklus

Tuhan kusalahkan
Aku getir menatap dosa
Nikmat ruah selainku, sekecil amarah menggebu hayat
Benarkah?

Lalu apa? Bahagianya?
Hasratku lahar gunung yang berdetak
Putus kupotong hubungan nurani
Aku sedih, senang, marah, akulah yang ditindih

Accumulated Despair

Jika Tuhan itu langit
Kulemparkan ribuan bom atom, tidak akan menyakiti-Nya
Jika Tuhan itu bumi
Kuhunuskan ribuan pedang, tidak akan melukai-Nya

Noktah hitam di belenggu hatiku bertanya
Mengapa kau hidup hanya untuk mati?
Mengapa kau berenang dalam air hanya untuk terbakar?
Mengapa kau diciptakan hanya untuk dihancurkan?

Amarah insan memang membinasa
Nafas Sang Nafsu memang kuasa
Ketidakpuasan manusia memang tiada pupus
Dosa orang-orang memang bermandikan darah

Kisah pendahulu yang mati, menakuti
Kisah yang dikenang, mengalahkan
Kisah masa depan, langkah yang terpaku
Kisah akhir jaman, jeritan kesakitan

Siapa yang mengajari?
Siapa yang menjelaskan?
Siapa yang melakukan?
Naluri berjawab bulat

Hati gelap tersesat
Makhluk garang tak bersahabat
Aku teriak suara tercekat
Bayang kegelapan datang terlambat

Acceptance of Difference

Salah siapakah apa yang terkandung dalam darah?
Salah siapakah dosa yang tidak bisa terarah?
Hidup dalam pilihan sendiri tapi terbakar
Atau hidup terpilih membohongi hati tapi bercahaya?

Tanpa cinta, manusia lara
Tanpa rasa, manusia nista
Tanpa jiwa, manusia hampa
Ke mana arah tuduhanmu menunjuk?

Rasa hati ditekan, sakit mencabik jiwa hingga musnah
Rasa hati diluapkan, sakit seperti pasak besi menghujam jantung
Apa yang kuketahui kalau detik setelahnya aku membisu?
Itu lebih sakit lagi seakan kau semut yang ditimpa langit

Aku berbeda lalu ditakuti
Tak bisa aku samarkan darahku
Aku merasakan dunia lah yang menjabat tangan burukku
Dunia yang tak pernah punya mata dan telinga
Dunia yang tidak peduli jutaan cacatku
Dunia yang tak pernah tahu arti diskriminasi
Bukan manusia yang ada di dalam-dalamnya
Bukan manusia yang segala-galanya

Seperti api diciptakan
Hidup, menerangi, membakar, mati
Seperti listrik diciptakan
Hidup, mendayai, menyetrum, mati

Tanyaku tidak habis
"Kenapa" atau "Mengapa" meluncur dari mulutku
Bagai peluru dari pistol dengan milyaran amunisi
Hampanya makhluk bodoh ini

Hanya dalam mimpi aku menemukannya
Sedetik di mana ketidaknormalan sangat berharga
Sedetik di mana aku mampu menjalin cinta tanpa aral
Ya... Dalam mimpi... Satu detik saja

Blood on the Ground

Pasti ada mawar yang mekar
Walaupun kau membakar ribuan taman
Pasti ada burung yang terbang
Walaupun kau menghancurkan ribuan sarang
Pasti ada biji yang tumbuh
Walaupun kau menebas ribuan pohon
Pasti ada bayi yang lahir
Walaupun kau membunuh ribuan manusia

Di fana, mengenaskan
Di baka, tersiksa
Jiwa yang meronta mendamba setetes air
Daging hangus tak mampu mati

Darah membasahi langit
Dosa meliputi darah
Manusia digerogoti dosa
Bumi diinjak manusia

Shard of Mirror

Ini aku
Tak mengalir air dalam senduku
Ini aku
Menjelma gubahan kalbuku
Ini aku
Salah absolut dalam setiap selku
Ini aku
Aku yang mencoba mengerti luasnya noktah

Ini aku
Selalu membinasakan mimpi yang pedih
Ini aku
Dinding penghalang sanubari yang kumaki
Ini aku
Mempersalahkan pencipta di balik ruang besi
Ini aku
Yang jiwa, hati, dan pikirannya meninggalkan kesempurnaan

Tiada waktu berpikir mundur
Tiada ruang untuk berkata jujur
Tiada kehancuran untuk diberi salah
Nyatanya akulah yang kalah

Aku benci... Aku benci pada cermin
Atau mungkin akulah yang aku benci
Aku terus bertanya mengapa tanpa lelah
Jawaban menjauhi penangkapanku

Garis darah di cermin, pudar
Ikatan jiwa di cermin, tiada
Aku merasakan detak jantungku bergetar
Alam semesta memperkecil insanku

Hitam yang aku lihat melekat
Putih melapisi selainnya
Trilyunan cahaya di angan-angan
Muncul hilang kala mata terpejam

Ini aku
Kaku beku membatu ragaku
Ini aku
Semu palsu diam terpaku jiwaku

Neuron

Esensi dasar mosi yang terlupakan
Inti distribusi sensasi yang tak digubris
Hanya meluap dari sepercik kicauan manusia
Tidakkah engkau berhasrat mencari jawabnya?

Yang menggerakkan ekstrimitas hampir tak berbatas
Yang membuatmu mengenali rasa dan hawa
Yang mempertajam indera untuk mengetahuinya
Yang menyadarkan keberadaanmu di dunia ini

Hidupnya menyanggupi
Aksinya memperkuat
Niatnya mempertahankan
Matinya membatukan

Selama kau melihat, mendengar, membaui, mengecap, dan menyentuh
Selama kau berjalan, berlari, menari, bertarung, dan bergerak
Selama kau terluka, kegelian, panas, membeku, dan kesakitan
Selama itulah saraf tersenyum setia menemanimu hingga hayat lenyap

Dark Sun

Mengapa kerendahan membentuknya?
Mengapa kau tak merasakan kegelapan?
Dari melelehnya api
Tertuju cita-cita untuk memegang kendali

Hati yang teriris berkobar
Kobaran api hitam tak membunuh
Nyawa tak rusak, raga tak terbakar
Hanya hati hancur oleh panasnya

Dari langit api meronta
Turun tak melata tangga
Hangat menghangatkan hangus
Api turun dari tangisan matahari

Matahari bersinar terang melenyapkan
Sinarnya membutakan, meleburkan
Tapi ia gelap, ia hitam, ia merusak
Matahari yang hitam gelap gulita

Poem

Hanya berkata dalam ketikan tombol rasa
Hanya mendengar bisikan dari pikiran
Hanya membuat kata aneh yang acapkali sumbang
Hanya memuntahkan hal irasional

Menjerit lolongan barisan huruf
Menampar logika tanpa darah percuma
Mengerti angin yang dihirup paru
Asing terhadap angin di luas mega

Kata tak bermakna, dalam tak berdasar
Do'a sahaja tersirat menggetarkan
Jemari lengkung menggantung asa
Dan Mahaindah melenyapkan hitam dosa

Indahnya alam tak mengelupas
Indahnya langit tak mungkin terbatas
Indahnya cinta hingga akhir nafas
Indahnya puisi tak terkurung kertas

Karya megah dipangku masa
Tulisan emas dari pujangga pemuji bahasa
Menghampakan ruang, menghentikan waktu
Memasung pikir dalam kerapian kalimat

Fire

Hangat kau mencari
Panas kau memaki
Kalor berteguh alam semesta
Manusia fana berteguh hati

Macis benderang ruang sekejap
Suluh cahaya kala angkasa melegam
Unggun berbinar, tungku terbakar
Matahari sakti menghujami radiasi

Kala menggigil, mengusapkan api
Kala dingin menusuk, menyiramkan api
Kala membeku, menyetubuhi api
Kala matahari di hadapan bumi, menggunjing api

Air diuapkan, tanah dilegamkan
Angin dimakan, kayu dikunyah
Pasir dikacakan, logam dilelehkan
Kehidupan dibakar, ketidakhidupan dihanguskan
Darinya tersisa bara, tersisa asap
Darinya tersisa arang, tersisa abu
Darinya tersisa tulang belulang
Darinya tersisa luka bumi yang sukar sirna

Api merah menyembur
Amarah terpendam kini terhambur
Alam yang terbakar membalas kesakitan
Gunung berlahar menodongkan kehancuran

Matahari di langit, magma di bumi
Api di darat, minyak di laut
Api yang suci menjelma wujud energi
Energi makhluk-makhluk yang belum kuasa mati

Words

Kata-kataku tak bermakna
Berhembus udara sepi
Pahammu meninggikan
Dari dalam tulisan yang melayang

Kalimat-kalimatku tak tertata
Kebekuan hatimu rasa
Berpikirnya hari serasa lambat
Menekan kegundahan, menutup wujud

Getarannya aku tak menangkap
Gelombangnya aku tak melihat
Ramahnya hilang tergerus
Hati mulai menghitam

Prayer

Kepala tertunduk khusyuk dalam khidmat
Tangan tengadah mengarah Sang Maha
Mulut meminta dalam kefanaan
Hati berdebar bergetar menggelepar
Mata berair tanda rindu terukir
Jiwa diam dalam besutan keinginan rohani
Pikiran mengharapkan nyatanya sajak
Kepercayaan iman bak pondasi yang suci

Kulafalkan lantunan do'a dari hati
Kubernyanyi dalam heningnya nuansa sunyi
Kutargetkan kata-kataku demi yang di hati
Kuresapi dalamnya ruang niat

Yang kuinginkan adalah kebaikan
Yang kucinta biarkan gembira
Dari sanalah hati ini bersinar
Kumpulan rasa yang berharga

Dari-Nya semua ini nyata
Senyummu terkristal dalam mata memori
Sedihmu teruapkan hilang tak berjejak
Nyatanya hanya itu inginku

Tanganku menampar dikuasai setan
Kakiku menendang digerakkan iblis
Tubuhku lumpuh dibius amarah api
Jiwakulah berucap koneksi pencipta surga

Dalam jajar kata ini aku menghubungi-Nya
Dalam indahnya kalimat ini aku meminta-Nya
Dalam teduh tenang nurani ini aku merindu-Nya
Dalam lemah seluruh kuasaku ini aku merasakan-Nya

Dalam do'a, aku mengingatmu
Dalam hayatmu walau tak terkenang
Dalam hikayatmu walau tak tersirat
Dalam hakekatmu walau tak tersebut
Dalam harkatmu walau tak berperan
Dalam hajatmu walau tak terpanggil
Dalam tirakatmu walau tak terpilih
Dalam sekaratmu walau tak bersamamu

Dalam do'aku, senyummu prioritas
Dalam do'aku, bahagiamu berkualitas
Dalam do'aku, rezekimu berkuantitas
Dalam do'aku, di mana kau tak pernah tahu

Calmness

Satu kata menggambarkan suasana ini
Satu kata mengilustrasikan ruang ini
Satu kata menjelaskan perasaan ini
Ketenangan

Dunia bukan terbungkam
Dunia tidak membisu
Ini caranya merenung
Renung masa hantaran sendu

Jiwa-jiwa memagut rasa suka
Mematung dalam lamunan mereka
Raga diam pikir bicara
Menenangkan tatkala seteru

Dalam do'a, selamat pun tiba
Ketenangan menaungi inginnya hati
Khusyuk ucapan merawat kasih
Dalam suratan yang khidmat

Tenang batin memikirkan diri
Sejenak tak khawatir akan nasib
Bimbang jauh disingkirkan
Tenang dalam gejolak prahara

Past

Aku membeku merenungi
Kerinduan yang samar-samar
Entah mengapa memori masih berdetak
Masanya pun telah sirna
Gelagat tak bisa dilihat
Yang mendatang hanya sesal
Terbenamnya rasa semu
Menjerat menggelayuti kemantapan niat

Memori busuk berkarang hina
Kenistaan mempernyata dosa
Aib menggunung tak meletus
Masa lalu yang buruk mengisi relung

Getaran cinta memeluk sukma
Gejolak bahagia tiada niat melupa
Kuasa masa dilumpuhkan
Masa lalu yang baik mendorong bahtera hidup

Waktu tak mampu ditipu
Waktu tak mampu diulang
Waktu tak mampu kembali
Masa lalu dari cahaya

Waktu tak mampu menutup
Waktu tak mampu mengalihkan
Waktu tak mampu menghilangkan
Masa lalu dari kegelapan

Mempelajari beban pikir
Menanggung beratnya jejak
Menerima luka berkesembuhan
Menyanggupi kehilangan

Masa lalu bungkam tak menjelaskan
Masa lalu dingin tak merasakan
Masa lalu kejam tak mengasihani
Di sana bukti dosa, amarah, dan keburukan

Masa lalu terang tak menggelapkan
Masa lalu indah tak menyedihkan
Masa lalu gembira tak menangis
Di sana bukti cinta, kasih, dan kebaikan

Hope

Tercipta berencana
Indah terdamping bumi nirwana
Jannah sejuk memanggil lengkung jiwa
Harapan... Surga...

Kala batin merindu tawa sejati
Masa senyuman masygul tak berceria
Waktu memaparkan memori
Harapan... Kebahagiaan...

Dekap sekejap berharap-harapan
Sadar aral berkelakar sakral
Benang kenangan mengekang
Menginginkan kekal bersarang

Cahaya menerangi barat, timur berbayang
Api membakar barat, timur berkehangatan
Berharap tinggi, direndahkan kuasa.
Berharap penuh, dikosongkan kemuliaan.

Untuk apa mengharap bintang, bila di dasar samudera
Untuk apa mengharap dunia, bila di ambang kesakitan
Harapan melintang hidup dan mati
Harapan hancur hidup tak berkesudahan

Audition

Bisikan angin menyusup lembut
Nyaring lirih sahut menyahut
Teriakan gelegar menghancurkan
Itu telingaku menerimanya

Keindahan berjajar merdu
Nada melayang mengatur barisan
Simfoni alam merenggut tangis
Itu telingaku mendengarnya

Telingaku menangkap gema gemuruh
Gaung mengalir merasai bumi
Pekaku suara luas mengembang
Bergetar syahdu kreasi nada

Pendengaran...
Getaran...
Suara...
Suara-suara membujuk

Dengannya aku mampu mencirimu
Bersamanya aku ketahui perasaanmu
Tanpanya aku tuli terperdaya ilusi
Pekak, mengandalkan bahkan yang hilang

Nyaring, lirih, merdu, dan sumbang
Getar, gelombang, gema, dan gaung
Pekik, isak, erang, dan ringkik
Aku dengar semua hal-hal tersebut

Vokal, lagu, musik, dan instrumen
Merdu, sumbang, melengking, dan parau
Guntur, arus, ledakan, dan dentingan
Aku hening khidmat karenanya

Mendengar tawa kebahagiaan sejati
Mendengar tangis sengsara hati
Mendengar teriakan sakitnya fana
Mendengar sepinya raga tak berjiwa lagi
Takdir tiada mampu beralasan
Waktu tiada kena diulangkan
Hanya menguping bisikan rintih
Telinga, pendengaran, audisi, dan getaran

Vision

Tarian cahaya langit
Gemulai sinar berarakan
Binar terang redup menghunus
Itu mataku menangkapnya

Corak bumi tak senada pualam
Warna langit tak sepadan arang
Ragam bunga meronakan pikir
Itu mataku menjelaskan

Mataku fokus tak berfokus
Ain memandang berkelanjutan
Netra menyaksikan hal perihal
Sekelebat juga sekalian

Pandangan...
Penglihatan...
Penyaksian...
Arah-arah mengarahkan

Dengannya aku mampu mengenalimu
Melaluinya aku mampu mengerti maksudmu
Tanpanya aku tak mampu memujimu
Aku berilusi dalam sendu

Jarak, ruang, luas, dan volume
Warna, cahaya, kilap, pola, dan bentuk
Kecepatan, getar, gelombang, dan gerak
Aku saksi segala itu

Hitam, putih, mulus, dan kasar
Cantik, rupawan, jangkung, dan gemuk
Senyum, sedih, tangis, dan tawa
Aku saksi mereka itu

Luar biasanya lensa biologis ini
Mengenali tanpa merasai
Memandang dan mengerti
Terhubung hati, pikiran, dan jiwa
Tak tersembunyi dari emosi
Tak terketahui dari sanubari
Saraf menguasai stabilitas diri
Mata, ain, netra, visi, dan penglihatan

Instinct

Naluri, apa itu?
Keinginankukah?
Kemauan makhluk di sekitarkukah?
Kehendak-Nyakah?

Petunjuk garis tak terlihat
Mengarahkan namun tak berwujud
Identifikasi terdistorsi
Mengilustrasikan bayang semu

Wajib mauku terlengkung
Harus inginku terhalang
Denotasi mencampuri
Konotasi menggambarkan jalan

Baik buruk ujung tak nampak
Terang gelap tak terintip
Bergerak maju, tulang membeku
Pikiran kelabu meragu

Instruksi terkoreksi
Ilusi terdetonasi
Mobilisasi terparalisis
Revolusi terrealisasi

Naluriku berbicara
Bicara tak berbahasa
Untuk tak mengakui
Naluriku...

Kesadaran, bukan
Kegilaan, mungkin
Perbedaan, pasti
Rasanya? Bebas

Dream

Siap dalam halusinasi
Abstraksi geliat mempercepat fiksi
Sadarku kubenamkan
Demi dunia yang menari-nari

Pintunya harus bertidur
Lorongnya harus berlelap
Ruangnya harus berketenangan
Isinya harus berpenglihatan

Dunia di mana aku terbang
Dunia di mana aku berenang
Dunia di mana aku tak terkekang
Dunia di mana aku tak bimbang

Halusinasi memeluk erat cerita
Ilusi menemani gejolak niat
Fatamorgana mengumpanku berkhayal
Mimpi meletakkan kerelaan

Aku ingin...
Aku mau...
Aku berkehendak...
Aku bermimpi arti

Menari menikmati jika sang raga bisa
Berteriak puas tak terdengar
Terjebak menjadi keinginan
Tempat bertoleransi

Kuperlambat waktu di sana
Kuperluas ruang di sana
Kupertinggi angkasa di sana
Kubinasakan gangguan di sana

Adalah di mana komentar tak berbunyi
Sebab mengapa senyuman tak asli
Cara bagaimana kehidupan tak menakjubkan lagi
Waktu kapan jam tak terbaca

Mimpi, aku datang
Peluklah aku erat dan hangat
Terima kasih telah menungguku pulang
Terima kasih jerih payahmu untukku

Isolation

Apa engkau tahu takdir?
Absolut terbungkus rapi
Pasti namun terlihat kabur
Layar berlapis membentang

Takdir yang perih teori dan praktiknya
Mudah diucap serta didengar
Merasakannya membawa sakit
Itulah... Kesendirian

Di mana kau lahir sebagai satu makhluk
Di mana kau mati sebaga satu makhluk juga
Berpikir mendalami pikir
Terjun bebas dalam wahana intisari

Sendiri memapah cerita
Sendiri menanggung beban
Sendiri memikul luka
Sendiri mengusung waktu

Eksistensi tak lagi terasa
Absensi memberkahi kesendirian
Isolasi membuatnya riil
Depresi imbas yang diterima

Visi dari mata hanyalah skala abu-abu
Audisi dari telinga hanyalah satu nada
Olfaksi dari hidung tak membau apapun
Gustasi dari lidah tak mengecap satupun

Sendiri dalam jeruji adaptasi
Terisolir dalam desakan spasial
Sebagai noktah mikro pada kertas seluas samudera
Tanpa arti, tanpa nosi, tanpa hati

Berjalan kaku menembus waktu
Beraksi tanpa niat dari hati
Berkelakar tak beremosi
Seperti makhluk terrobotisasi

Sehelai daun yang gugur
Setetes air dari langit
Separtikel debu yang melayang
Sesendiri itulah kalbuku

Night

Hening suara tak berkemauan
Diam gerak tak berkemampuan
Samapta jiwa tak berketenangan
Nestapa batin tak berkeadaan

Di dalamnya aku istirahat
Istirahat dari penat yang berkutat
Di dalamnya aku lelah
Lelah mengeluh berdalih salah
Di dalamnya aku diam
Diam tak bergumam, diam bak aku kram
Di dalamnya aku sendiri
Sendiri tanpa arti dan jati diri

Cepat bila aku tak hiraukan
Lambat bila aku mengijinkannya memelukku
Sempit bila aku tak pedulikan
Luas bila aku mengijinkannya menyelubungiku

Langit hitam menggelapkan nur
Gemintang tiba menorehkan tanda
Sekejap sunyi merasuk tulang-tulang kokoh
Terang angkasa patroli bulan

Sihir waktu membedakan hajat
Bagai Yin menyeimbangkan Yang
Selaraskan perlakuan hidup berbatas
Kuasa nujum membelai lembut

Sehitam kemelutnya malam
Sesepi sendirinya malam
Seterang cahayanya malam
Suasa bumi bersiang emas

Malam tiba rasa hakiki
Tugas rotasi membebani
Menggiring wajah asli Sang Bumi
Gelap senyaplah penampang asli

Sadness

Datang...
Bersarang...
Menyerang...
Menghilang...

Itu rasa, mereka bilang
Itu lara, mereka samakan
Itu dilema, mereka terka
Itu merana, mereka simpulkan

Mengusik tenang batin bertapa
Meruntuhkan aura tanpa berwarna
Menjerat hawa berkumparan
Memutar balik jentera ingatan

Siluet masa sedih terbenak
Membekukan tanpa menggigil
Ingin kubergerak, hati tak menyanggupi
Rusakkah aku?

Hati itu rapuh
Tak bertameng, tak berbenteng
Retak, tipis, dan rentan
Terjamah ia bergetar

Koneksi pikiranku menyambut hangat
Kuingat inilah kesedihan
Sebab masih ambigu
Tak mampu diri mencerna

Sulit semuanya kuterjemahkan
Hanya nurani ini butuh bimbingan
Api marah, air tenangkan
Hati sedih, waktu terangkan

Kusaksikan indraku kian tumpul
Sedih ini sengsara unggul
Sanubari susah tak berjudul
Senyum sahaja tak bersimpul

Waktu, aku rindu
Ruang, aku ragu
Hati, aku bingung
Jiwa, aku terhubung

Biarkan ketidaksadaran menelannya bulat-bulat
Terpikir kuasa hati tak mampu memahami
Pudarnya hitam legam memori berubah kelabu
Gantinya kiranya rasa ria terkenang jagad

Rain

Menukik laju bak misil
Memberatkan uap yang jenuh terkandung
Berorasi gemuruh mengajak kawan
Naik sebagai uap, turun sebagai air

Berteduh raga dibasuh
Dingin menggigil meresap
Kehangatan dalam kesenduan suasana
Angkasa kelabu mendekat tanah

Suara tak terkedap
Suara air yang membetur kulit bumi
Suara bumi yang suka duka
Membentur halus tak berdarah

Hujan bersebut arak-arakan
Manusia teduh di perlindungan
Menatap benci, merasa sendu
Tiap air membawa ingatan

Yang kuat bilang hanya air
Yang cepat bilang pasti berakhir
Yang damai bilang menyejukkan
Yang marah bilang menghambat kegiatan

Fenomena bumi, tangisan diri
Membasuh debu yang melekat di ari
Mengangkat air ke tanah tandus
Membuat nadi di daging yang kurus

Itu alam, nyanyian bumi
Itu tangannya, caranya mandi
Dari kekejian orang tak berperi
Dari pengotoran manusia sok suci

Hujan, jatuhlah
Turun menyembuhkan luka Sang Gaia
Menghujam menyirami ragam hayati
Air yang terangkat